Alfi Syahril : Tuhan Pun Diingkari

Jika kamu berkesempatan untuk menjadi seorang pemimpin, hal apa yang paling kamu khawatirkan?

Tanya Alif kepada Mukidi pada satu kesempatan.

Aku khawatir akan satu hal yang barangkali di Negeri Para Penghayal ini adalah sesuatu hal yang lumrah terjadi. Apa itu? Aku bersama timku akan menguras seluruh intelektualitas kami untuk melahirkan butir demi butir yang kami sajikan didalam visi dan misi kami. Kemudian kami bungkus setiap butirnya hingga para pemilik suara akan tergila-gila akan keindahan bungkusannya dan kami tambahkan keyakinan mereka dengan janji-janji yang pada akhirnya kami sendiri yang akan mengingkari.26992633_1587970564625360_2738135244247569031_n

Lanjutkan membaca “Alfi Syahril : Tuhan Pun Diingkari”

Iklan

Alfi Syahril : Pengertian Kehidupan dan Kesengsaraan

Begini lah hidup, kadang susah di mengerti dan bahkan kadang kala tak perlu di mengerti sama sekali. Betapa banyak di antara kita yang mencoba untuk menafsirkan kehidupan. Namun, sebenarnya kehidupan tak perlu ditafsirkan sama sekali kawan.

Sama halnya ketika kita berkeinginan untuk melukiskan kehidupan. Namun, ketahuilah tak ada lukisan yang akan mampu merepresentasi kehidupan itu sendiri. Kehidupan terlalu indah untuk di lukiskan sehingga tak ada lukisan yang mampu menggambarkan kehidupan itu sendiri.

tafsiran kehidupan

Kita boleh saja gagal paham atas pengertian pengertian kehidupan karena pandangan kita terhadap kehidupan berdasarkan apa yang terjadi sama kehidupan kita kawan bukan berdasarkan kehidupan itu sendiri.

Kita berkesimpulan bahwa hidup ini hanyalah kesengsaraan yang tak berkesudahan hanya karenakan hidup kita di penuhi oleh berbagai macam penderitaan. Padahal, hidup ini indah sekali kawan, jika kau belum menemukan keindahan akan kehidupan sampai saat ini maka sudah saatnya kamu mengubah cara pandangmu terhadap kehidupan itu sendiri. Jangan-jangan dikarenakan cara pandangmu terhadap kehidupan telah membuatmu begitu di timpa oleh berbagai macam kesengsaraan.

Tere Liye : Novel Rindu

Perjalanan panjang ini dimulai ketika sebuah kapal besar bernama Blitar Holland mendarat di Pelabuhan Makassar. Kapal tersebut nantinya akan berhenti dan menaikkan penumpang di Pelabuhan Surabaya, Semarang, Batavia, Lampung, Bengkulu, Padang, Banda Aceh. Kapal itu akan terus melaju hingga Jeddah karena para penumpang kapal tersebut adalah calon jamaah haji.

Tersebutlah Daeng Andipati, seorang yang terpandang karena telah berhasil menyelesaikan sekolahnya di Belanda. Ia bersama istri dan kedua anaknya, Elsa dan Anna.

Dibalik kebahagiaan yang Daeng Andipati miliki saat ini, ternyata ia menyimpan kebencian tak terperi pada sosok yang seharusnya ia hormati. Kelicikan, kekerasan & kemunafikan adalah garis besar kisah lalunya. Masa kecilnya ia habiskan dalam sebuah skenario besar yang diciptakan Daeng Patoto, ayahnya sendiri. Beruntung, ia berhasil mencipatakan kehidupan baru yang jauh lebih baik.

Hanya saja, rasa benci itu terpatri dalam aliran darahnya. Tak berhenti dan semakin menjadi bahkan setelah Daeng Patoto wafat. Kotak masa lalu yang dia simpan rapi seolah dibuka paksa oleh suatu peristiwa penyerangan tak terduga yang dilakukan oleh Gori Si Penjagal, mantan tukang pukul suruhan ayahnya puluhan tahun silam.

U5drx1qptSmJeqf6KSaoMXZcV4hJeQ2_1680x8400

Bonda upe, wanita oriental menawan yang merupakan guru mengaji anak-anak selama di atas kapal ternyata menyembunyikan sesuatu dalam kotak berlabel masa lalu. Siapa yang mengira bahwa wanita pemalu ini dulu adalah seorang cabo, pelacur. Rahasia yang ingin ia lupakan itu akhirnya terkuak saat Blitar Holland transit di Batavia. Ia yang sebelumnya sempat ragu akhirnya turut bergabung bersama rombongan untuk makan siang di sebuah kedai soto. Kotak masa lalunya terbuka saat ia bertemu seseorang. Lanjutkan membaca “Tere Liye : Novel Rindu”

Berdamai Dengan Diri Sendiri

Sabar sebentar. Semua akan kita tinggalkan kemudian menghilang tanpa pamitan. Bukan karena membenci apalagi menyalahi. Namun karena mencintai dan berdamai dengan diri sendiri. Perlu kita pahami bahwa di kehidupan ini, mau tidak mau orang-orang akan datang dan pergi. Namun berdamai dengan diri sendiri apa yang kita butuhkan saat ini.

Berdamai dengan diri sendiri

Lanjutkan membaca “Berdamai Dengan Diri Sendiri”

Alfi Syahril : Teruslah Melangkah, sayang

Kadang memang aku harus pergi sejauh langkah membawa diri
Membunuh dengan tega segala potongan kenangan yang tersisa

Satu dua harus ku buang dia dengan deraian air mata
Satu dua lainnya aku pandang lamat-lamat dengan sebuah senyuman
Sambi merenungkan betapa indah hari-hari yang telah kita lalui berdua wahai cinta

f7cb7-c360_2014-12-09-16-19-51-397-1

Namun, sayang seribu sayang. Kita harus terus melangkah ke arah masa depan.
Meski, langkah kita sudah tak lagi sejalan.
Teruslah melangkah sayang. Tak mengapa kita tak berjumpa lagi di masa depan. Yang terpenting kamu takkan tertinggal di belakang.

Teruslah melangkah sayang.
Sambutlah masa depanmu yang telah menantimu dari kejauhan.
Sambutlah ia dengan orang yang kamu sayang.
Selamat melangkah sayang.
Selamat tinggal
– Alfisy0107

Alfi Syahril : Kau Tak Perlu Tau

Maaf, aku tak ingin lagi membagikan kesedihan
Karena kesedihan hanya memerlukan kesendirian
Maaf, aku tak ingin lagi membagikan kesedihan
Karena kesedihan tak layak untuk di bagi-bagi23231591_1938719586448259_5385811705725509147_n
Maka, izinkan aku berbagi kebahagiaan
Agar kau ikut bahagia dengan kebahagiaanku
Kau tak perlu tahu kesedihan yang sedang membelengguku
Biarkan itu menjadi beban yang ku pikul tanpa perlu kamu tahu
Karena aku takut, jika saja kamu tahu.
Maka kamu akan ikut sedih sepertiku
– Alfisy0107